Followers

October 10, 2009

Bahtera Dakwah dan Tsiqah (edited)




Imam Syahid telah berkata:

Yang saya maksud dengan tsiqah adalah rasa puasnya seorang prajurit atas komandannya dalam hal kemampuan dan keikhlasan; dengan kepuasan mendalam yang dapat menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan. Allah SWT berfirman:

فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An Nisa:65)

Pemimpin adalah bagian dari dakwah. Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar kepercayaan timbal balik antara pemimpin dan yang dipimpin, menjadi penentu kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya mengatasi berbagai halangan yang menghadangnya.

طاعة وقول معروف ….

“Maka lebih utama bagi mereka ketaatan dan perkataan yang baik” (Muhammad: 21).

Kepemimpinan –dalam dakwah ini—memiliki hak sebagaimana orang tua dalam hubungan batin; seorang guru dalam fungsi pengajaran ilmu; seorang syeikh dalam pendidikan rohani; dan pemimpin dalam menentukan kebijakan politik secara umum bagi dakwah.

Berkenaan dengan rukun tsiqah ini, Imam Syahid berkata: “Sesungguhnya, tsiqah kepada qiyadah merupakan segala-galanya bagi keberhasilan dakwah. Karenanya, aktivis yang tulus harus mengutarakan beberapa pertanyaan berikut kepada diri sendiri, untuk mengetahui sejauh mana ke-tsiqah-an dirinya pada qiyadah dalam sesuatu dakwah:

1. Sudahkah mengenal pemimpin dan mempelajari kondisi kehidupannya?

2. Percayakan pada kemampuan dan keikhlasannya?

3. Siapkah menganggap seluruh perintah yang diberikan pemimpin untuknya –tentunya yang tidak bernilai maksiat- sebagai instruksi yang harus dilaksanakan tanpa reserve, tanpa ragu, tanpa mengurangi dan memberi komentar dengan disertai pengutaraan nasihat dan masukan untuk mencapai kebenaran?

4. Siapkah menganggap dirinya salah dan pemimpinnya benar, jika terjadi pertentangan antara sikap pemimpin dan apa yang ia ketahui dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang tidak ada teks tegasnya dalam syariat.

5. Siapkah meletakkan seluruh aktivitas kehidupannya dalam kendali dakwah? Apakah dalam pandangannya pemimpin memiliki hak untuk men-tarjih (menimbang dan memutuskan yang terkuat) antara kepentingan pribadi dan kepentingan dakwah secara umum?

No comments:

Popular Posts